31st Birthday Wishes

Pas ulang tahun, dibangunin tengah malem sama Andri, kemudian dipeluk dicium, diselametin ulang tahun sambil dikasi kertas print2an, ternyata barang yang gue secretly wish dengan tulisan tangan APPROVED diatasnya.

Thank you, pa.. as for me, you & Zee are my greatest gifts, i’m so happy i can have you both every year in my birthday! :)

31 Tahun.

*update*

31 tahun, ya..

Bagi sebagian orang yang sudah lebih berumur dari pada gue, mungkin gue masuk golongan “halahh! masih bau kencur lo!”, gue ngga ngerti salah apa si kencur di kait2in sama umur selama ini. Hihihi… Nyokap gue umur 31 dulu, gue udah umur 10 tahun! hahahaha… T___T

Anywaayy.. on a much more serious note.

Ulang tahun kali ini menyenangkan sekali walau Andri mesti pergi ke Jakarta, tapi ada banyaaak kado dari suami dan dari temen2 deket, terima kasih sekali! Soal cerita, udah cukup lah ya 5 tahun ngeblog tiap tahun ngomongin how merry my birthdays are. Karena ulang tahun kali ini husband less, sembari nemenin Zee tidur gue jadi begadang malem2 sambil bacain blog dulu-dulu dan, as boring and cliche it may sounds, i began to reflect my whole life..

*menghela napas panjang*

It has ups and downs like anyone else, of course kalau sekarang cuma seneng2nya aja yang ditulis, karena gue percaya masalah orang beda-beda, begitu pula jalan keluarnya. Jadi biar deh kesusahan, kesedihan jadi pembelajaran pribadi kami. Lagipula, akan selalu ada aja orang berpikir bahwa kami ngga bersyukur.

Semenjak gue menginjak umur 30, gue mulai merasa path hidup gue berubah. Pas banget gue ulang tahun ke 30 tahun lalu, kita pindah ke Singapore. Memulai rutinitas gue tanpa pembantu, yang tadinya boro2 mencet mesin cuci, sekarang jadi best-friend. Boro2 nyalain kompor di rumah Bintaro, sekarang jadi best-friend. Atau tadinya tau2 Zee udah wangi udah mandi, sekarang walaupun rasanya pingin tiduran aja di kasur sampe sore, tetep harus nyeret pantat ke kamar mandi, mandiin anak dan mikir mau masak apa hari ini buat Zee. Di umur ini juga gue menemukan teman2 baru yang sayang sama gue, dan menemukan orang2 (yang alhamdulillah, meskipun gue ngga pernah kenal sebelumnya apalagi bertatap muka) yang ternyata ‘benci’ sama gue. Pindah ke luar negeri dan handle semuanya sendiri ini perubahan dan adaptasi yang besar banget buat gue, beberapa orang akan bilang gue ngeluh, beberapa akan pat me on the shoulder and said you’ll be fine :)

In terms of friendship. Banyak sekali pelajaran baru buat gue. Gue merasakan bahwa semakin nambah umur, entah otomatis atau atas kesadaran gue sendiri, ternyata temen2 gue makin ‘terseleksi’. Berkurangnya ‘temen’2 gue ini sangat gue syukuri, karena ternyata gue menemukan kenyamanan berteman dengan orang2 yang sejenis, mungkin bisa dibilang orang2 yang family oriented, baik yang bersuami aja, atau juga ber-anak. I had a great time with them, really am. Kita bisa ngobrol panjang lebar tentang apa aja lewat grup dan jauh dari ‘gosip’ di dunia twitter. Gue merasa bahwa ngurusin kehidupan orang lain dan ngomongin orang karena ‘mereka pantes/minta diomongin(?)’ cuma ngabisin jatah hidup/waktu gue di dunia. Tapi selain itu gue juga mau terima kasih, karena diantara waktu berharga mereka ngurus suami dan anak, ternyata mereka masih sempet mikirin gue dan orang2 lain yang mereka benci. :)

Dulu gue melihat kehidupan blogger yang melulu ngurusin anaknya, sebagai hal yang membosankan. Sekarang gue sadar bahwa gue menjadi salah satu dari mereka, dan gue seneng sekali sama rutinitas baru gue ini. Gue juga ngga mau sisa hidup gue entah tinggal berapa lama lagi dihabiskan dengan benci sama orang yang kita tau dari socmed (yang, kadang, kita bahkan ga pernah ketemu, atau kenal langsung!), gue juga ngga mau mempengaruhi orang yang tadinya ngga kenal sama si A, misalnya, untuk ikut2an benci sama si A. Gue banyaaaakkkk banget dosa, yang ngga mungkin ilang gitu aja tiap kali gue sholat, dan gue ngga mau nambah2in fitnah sebagai dosa gue. Less care ke mereka yang mungkin kehidupannya ‘menggelitik’ untuk di komentari, karena kita ngga pernah tau apa yang sebenarnya tengah mereka alami di hidupnya.

I’m not the most religious woman. Gue ngga bisa baca tulisan arab, dan kadang Sholat kalau ada maunya. I’m still learning to be a better person everyday. Tapi seenggak-nya meski gue belum rutin sholat, atau bahkan ‘menutup diri’, gue berusaha benerin perilaku gue dulu, i hate less (atau malah ngga sama sekali) to the people who hate me. Walau kalau denger kabar ngga enak tentang gue, gue sampai sekarang juga masih deg2an dan sedih sih, lantas kemudian gue inget prioritas hidup gue sekarang bukan lagi tentang ‘gue’, dengan gue menghabiskan waktu bersedih-sedih, diem di kamar mandi berjam2 mikir salah gue apa, atau bengong berlama-lama ngeliatin hp dan kembali deg2an pas dateng kabar susulan yang ngga diharapkan, i am actually neglecting my family. Andri selalu tau kalau gue lagi kenapa2 dan ngga bosen2nya bilang, ‘just tell me everything, jadi aku tau gimana ngadepin kamu kalau ternyata ada kabar2 ngga enak, kemudian kita lupain, dan back to our family matters again’.

Gue juga sekarang berusaha untuk mind my own bussines, ngga pingin tau terlalu berlebihan atau kepo akan suatu hal di socmed, mengurangi keaktifan gue di dunia maya dan meminta sahabat2 gue untuk ngga menyampaikan apapun itu kalau ada kabar ngga enak yang menyangkut gue. Gue juga berusaha menahan diri untuk ngga ngomongin orang di socmed, dan selalu keep it to my self/Andri. Gue juga ngga pernah mau lagi nulis hate message atau no mention di socmed, karena gue ngga mau kalo gue mati, yang orang lihat dari twitter/path gue terakhir adalah negativity. Plus there is always someone somewhere yang mungkin juga ngomongin lo balik. When you judge people, you are also being judged. Gue udah tua, malu sama umur kalau masih sindir sana sini, gue harus fokus ke orang2 yang sayang sama gue dan bukan sebaliknya. Kalo kata Andri “you are not their priority and therefore you don’t have to make them yours”. Anak sehat, suami sehat, alhamdulillah, kenapa mesti ngurusin hidup orang lain? :)

Oiya, soal sehat. Up until now, I can’t clean eating, gue terlalu seneng sama makanan enak gimanaa dooong! hihihi… :p But i drink frappuccino less now. Does it count? :p Supaya tetep sehat (bukan kurus ya, kurus udah lama sekali gue coret dari kamus gue, i’m tired menyiksa diri demi penampilan), gue masih lari sampai sekarang dan training di rumah bermodalkan aplikasi di iPhone atau Youtube. Gue pingin sehat buat keluarga gue, supaya makin lama bisa sama2, bukan buat siapa2.. :) Biar itu dibilang mau ikutan tren, i don’t care. I’m more healthy than people who just sit and bashing other people. Semoga tahun2 kedepan semakin sehat!

Terakhir, dan yang tiap tahun akan terus gue ucapkan, gue bersyukur sekali punya suami Andri, dia juga sahabat gue yang ngga capek2 ngeladenin dan terus2an ngingetin di saat gue kesel atau frustasi, yang gue bisa cerita apa aja mulai dari masalah socmed sampai diskusi berjam2 soal financial log di tengah malam, serta rencana2 kedepan. Ngga bisa bilang apa2 kecuali, semoga balasannya surga ya, pa.. Aamiin!

Buat Zee yang sangat-sangat-sangat pengertian saat waktu mainnya bersama gue keambil karena gue malah menghabiskan berjam2 ngurusin kabar ngga ngenakin, makasi Nak, karena sudah duduk manis di kasur, dan nunggu Mommy keluar pintu kamar mandi, untuk kemudian gandeng tangan Mommy lagi. Thank you for always handed me the tissue when i cried. I’m glad i’m raising a gentleman here.

You gotta look for the good in the bad, the happy in your sad, the gain in your pain, what makes you grateful note hateful. – Karen Salmansohn.

Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillah, 31 tahun sudah hidup, semoga masih ada tahun depan buat gue.. Aamiin!

2nd Birthday Letter

Anakku, Zlatan.

Tanggal 25 Mei kemarin kamu ulang tahun ke-2. Sudah bukan bayi, sudah bukan infant. Momi juga jadinya bayar full kan tiket pesawat kamu balik ke Singapore. Hihihi..

GImana rasanya jadi anak 2 tahun? :)

Mommy yakin pasti menyenangkan, terutama karena 3 bulan terakhir kamu makin ceriwis kaya Papa. Kadang Mommy kasian, begitu banyak kata2 yang sepertinya kamu mau ucapin ke Mommy dan Papa, tapi masih terbatas ya kamu ngerti-nya. Jadi kadang2 kamu cuma tunjuk dan teriak “UUHH!!”, kalau soal alat transportasi, kamu jagonya. Segala ‘bot’, ‘ngengeng’, ‘aking’, cars, choochoo, kamu bisa sebut semua. Bahkan kamu inget lho kalo ketemu mobil papa, eh BEKAS mobil papa di jalan, kamu akan tunjuk Livina dan bilang “ngengeng papa!” hihihi.. Nanti kita insya Allah beli mobil lagi ya, Nak..

Zee, sayangku..

Tahun ini ngga ada perayaan spesial buat ultah kamu, Granmi masak luar biasa banyak untuk makan siang keluarga kita, dan kamu ngga mau tidur siang sampai rewel karena ngga mau ketinggalan ‘seneng2 keluarga’ ini. Alhamdulillah, ngga lupa juga sama temen2 kamu. Semoga tradisi ini tetap kita jalanin sampai kapanpun kamu ulangtahun, sebagai pengingat bahwa kamu punya banyak teman yang tidak seberuntung kamu, Nak..

Zee, sayangku..

Umur kamu baru 2 tahun, tapi kamu sudah terlibat begitu banyak keputusan penting Mommy dan Papa dalam hidup. Kamu ikut kita pindah ke Singapore, walau itu berarti menghapus privillage kamu untuk diasuh dan disayang begitu banyak orang di Jakarta, menghilangkan keasikan kamu main sama temen2 kecil kamu di sekolah, membuat kamu sedikit bingung karena hampir 3 minggu sekali kamu selalu naik pesawat terbang alias airplane alias aking, untuk pulang ke Jakarta nemenin Mommy ngurus hal2 yang masih ketunda. Kamu melakukan semua itu, in such young age, tanpa protes. Kayak pasrah sama semua keputusan Mommy dan Papa. Terima kasih, Nak.. karena membuat semua keputusan itu 90% lebih mudah dengan segala penerimaan kamu. Semoga keputusan besar keluarga Pradono ini menjadi keputusan terbaik untukmu juga..

Zee, sayangku..

Terkhusus untuk kamu, Mommy mengucapkan terima kasih sebesar2nya, karena sabar saat Mommy ngga bisa sabar, karena diam saat  Mommy teriak ke kamu, karena pelukin Mommy saat Mommy diemin kamu. Kamu masih kecil, masih bayi Mommy, yet you have a bigger heart than me. You literally teach me everything. Mulai sabar sampai dengan cara mengasuh anak dengan kasih sayang.

For the past 2 months, kamu jadi temen Mommy disetiap hari, nemenin Mommy blogging, nemenin Mommy tidur, bikin acara mandi kamu jadi lebih seru, bahkan kejar2an pakein kamu pampers juga terasa menyenangkan.

Mommy janji, akan belajar terus untuk lebih sabar, ngga akan memaksa kamu melakukan sesuatu apabila kamu ngga mau, dll. Satu yang Zee bisa pegang janji Mommy sampai Mommy ngga ada, kalau Mommy, no matter how dangdut this may sounds, will do anything for you, will die for you, and loving you whole heartly.

Selamat 2 tahun kelahiran kamu, Sayangku Zlatan Aufarrayhan Pradono.

Teruslah jadi pengingat Mommy & Papa untuk selalu bersyukur di kehidupan ini. Kamu, rejeki Mommy & Papa. Kamu, rejeki paling penting dalam hidup kami.

Sehat & bahagia selalu ya, Nak. Cuma itu yang Mommy & Papa harapkan.

Aminn!

Peluk Cium,

Mommy & Papa.