Kemarin gue dihadapkan pada salah satu pelajaran hidup yang menurut gue berharga banget.
Singkat cerita, there’s this one young lady, lets call her, X. Yang akhirnya bilang terus terang ke gue lewat email kalau dia punya masalah sama gue, dia ngga suka sama gue setelah ngikutin twitter gue jadi tau sehari2 IRL gue gimana. Seperti ngikutin reality show, orang bisa jadi ngga respek setelah tau sehari2nya gimana. That’s ok, gue sangat menghargai pendapatnya. Lantas gue instropeksi diri gue, seperti yang dia sarankan di salah satu twitternya. Bukan, bukan, tentang what did i do wrong to her, tapi lebih ke soal, benci membenci, suka ga suka dll.
Why people hate each other? Dia sempet bilang, bohong gila kalo lo ga ada masalah sama gue. Gue bilang dengan tingkat kejujuran (dan kepolosan) 100%, NGGA ADA. Demi Allah ngga ada, lah gue ngga kenal dia secara langsung di dunia nyata kok. Masa gue mau judge dia berdasarkan isi TL-nya? Shallow banget gue kalo iya. Gue memang bertanya2 ke bbrp temen deket in-real-life gue (yang mostly ngga kenal dia juga), kenapa ya dia gini sama gue (once again ini kalo gue GR ya). Dan kenapa dia benci dan ga suka sama gue dan berani secara terang2an ngomong. Dan kenapa gue ga benci dia balik setelah tau hal ini?
Setelah gue pikir2 dan gue inget2, gue (sepertinya) ngga pernah benci sampe mengakar ke satu orang ybs lho. Mantan pacar andri ga termasuk ya, huahauhaua.. (becanda, Mal..
) Gue malah temenan deket dalam porsinya sama salah satu mantan pacar Andri sampai skrg :p
Eh tapi ada deng, satu orang yang gue constantly ngomongin ke Andri dan bbrp temen deket gue, meskipun ngga sampai taraf benci ya. Dan sejak email dari X ini, gue mikir dalem2 dan instropeksi. Kenapa gue sebel sama ini orang ya? Dia salah juga ngga ke gue. Lantas apa bedanya gue sama X? Gue memang ngga pernah nyindir di twitter, tapi malah gue ngomongin langsung ke Andri, yang sering kali cuma ditimpalin “halah, udahlah ini ibu2 ampuunn..”.
Email dari X (once again, i really appreciate your email), menyadarkan gue kalau ngebenci orang, terutama kalau orang tersebut secara nyata not doing any harm sama keluarga gue, itu ngga enak. Menghabiskan energi gue. Apalagi jadi orang yg dibenci, in this case, me. Ngga bisa tidur mikirinnya, cing!
Eh tapi gue mau terima kasih juga lho, sama X, karena dia gue jadi mikir, gue ngga mau jadi orang kaya gitu, benci orang karena gayanya ‘doang’ apalagi kalau orang tersebut masih baik sama gue. Gue ngga menyesal akan keseharian gue yg gue tweet karena itu diri gue sendiri tanpa pencitraan, kalau menurut dia itu too good to be true, menye2, jijai, atau kasian, yah beruntunglah gue, ternyata tweet gue masih ‘bermakna’ bagi sebagian orang (atau many other haters, like she said). Gue kira tweet2 gue cuma un-meaningfull lines aja.
Ada sebab ada akibat. Akibat yang gue ambil dari kejadian ini adalah, i dont wanna be a hater, unless he/she did something that put my family life in great dangers, lain dari itu, tugas gue di hidup ini masih banyak. Gue masih ada anak yang megangin ujung baju gue kemanapun gue pergi, bilang “ayutu” waktu gue bilang “i love you!”, masih ada suami yang tiap malem melukin gue dan bilang sayang banget sama gue. Masih banyak hal2 positif yang alhamdulillah masih bisa gue nikmati. Gue ngga akan buang waktu gue yang entah tinggal berapa lama ini dengan sebel, ngomongin dan occupied sama kegiatan benci sama orang lantas neglect kewajiban gue jagain anak atau ngurusin suami gue.
Missus, thanks for the wake up call. Have a great life, you.