Soal sekolah Zee, gue dan Andri punya standard yang berbeda. Tapi ‘untungnya’, gue sama Andri juga masih bisa kompromi.
Sekolah yang masuk ke kriteria ideal menurut gue adalah full english. Frankly speaking, i don’t care kalo nantinya Zee ngomong macem cincalawra. Yang jelas harus fasih dan jauuuuuhh lebih bagus daripada orangtuanya. Kalo perlu, lebih fasih daripada orang bulai. LHO. Hahaha.
Mengapa? Gue merasa 20 tahun lagi, bahasa inggris udah jadi syarat mutlak untuk orang kerja/berkomunikasi. Yah sekarang aja kantor gue nyari OB/Messenger kalo bisa ngomong inggris kok gegara kantor banyak hubungan sama pihak luar. Macem nawar2in minum gitu kan kudu ngomong inggris sama bule, masa pake morse?
Bukan berarti gue ga cinta bahasa Indonesia ya, BAGI GUE, Bahasa Indonesia tetap akan jadi bahasa wajib Zee, yang bisa dipelajari di rumah, dari lingkungan sekitar, keluarga dll. Sedangkan keuntungan sekolah punya unsur (sedikit) represif. Jadi dari situ mau gak mau Zee akan belajar bahasa lain selain indonesia. Ngga ada kata2 too early, basic yang harus ditanam sedini mungkin supaya biasa. *ROAAARR!!*. Maklum, ibunya gak gape2a amat kan ngomong. Sahabatan pula sama Google Translate. HAHAHAH!!
Bagi Andri, yang merupakan keluaran Alpus berbelas2 taun, adalah mutlak kalo sekolah itu harus bernafaskan islami. Gue sih setuju soal ini, secara basic islami di keluarga kita itu harus diterapkan sedini mungkin. Soal SD kita udah mulai lirik2 B*4**, anyone can confirm kalo mereka bilingual dan islamic?
Akhirnya, setelah berembug sepanjang Sudirman – Bintaro, didapatlah kata keputusan. Andri akan menyerahkan pilihan preschool-kindy ke gue, tentunya dengan ACC pak CEO. Dan Andri berketetapam mutlak dan mengikat akan SD-SMP-nya Zee dimana gue boleh memberikan masukan ataupun saran. Hihihi.. Aman damai, tentram sejahtera deh.
Hal yang menyulitkan lainnya adalah, beeeegituuuu buanyaakk pilihan sekolah bagus di Bintaro. Mulai dari Internasional School, Islamic School, National Plus dll embel2nya. Honestly, gue bingung. Tapi setelah konsen ke tujuan pertama yaitu tempat harus cukup luas karena menurut gue preschool masih banyak aktifitas fisiknya. Guru2nya at least ada bubulalai-nya, karena pengalaman gue dan orang2 lain di sekitar gue, banyak sekolah yang asal dikasi plang bilingual tapi ternyata spiking englaish sak bisane gurune wae lah.
Temen kantor gue ngasi tips, jangan sampe lupa buat test ngomong ke calon guru (kalau itu sekolah international/bilingual). Kenapa ngotot Inggris2an sih, Wor? Hmm.. Sudah menjadi cita cita terpendam gue untuk Zee nerusin at least Post Grad-nya diluar, ya sukur2 jadi temenan baik sama Nin-nya Ochel & Gajah jadi bisa ngekost disana. Hahahaha.. Gue ga bisa bayangin soalnya persaingan dunia kerja 20 tahun lagi gimana. Jadi lebih baik siap2 apa yang menurut gue sama Andri terbaik untuk Zee.
Tersebutlah setelah liat2 sana sini, gue sama Andri menyempitkan pilihan ke 2 sekolah ini. School A dan School B. Dua-duanya di Bintaro. School A, sayangnya tiap Sabtu tutup, tutup digembok yang ga ada orang untuk dikunjungi, ngga ada website, padahal bangunan sih keren banget HighScope-ish gitu. Ditelpon juga jarang yg angkat, hiks.. dan merka biasanya ngelanjutin sekolah ke School C (juga di Bintaro, liat Sport Facilities-nya deh, iiissshh kerennn… *lirik Andri*). School B sih oke, menerima 18 bulan, franchise dari Singapore, sistem (ofkors) Cambridge dan bisa juga nerusin ke mentari. Dan mereka teges lho, kalo ada yang ga sesuai lagi dengan kurikulum/wanprestasi langsung di cut franchising-nya sama mereka.
Itu dulu, tadinya.
Sekarang karena keadaan kita akan pindah ke kompleks baru, dimana gue jadi orang ke 3 yang menghuni perumahan itu, yang berarti Zee ngga ada temen main sama sekali. Sementara di Puri Bintaro, Zee temen2nya segambreng. Dan main antar rumah udah jadi menu pagi-siang-sore.
Meninjau hal ini (maaf ya bahasanya, gue abis bikin surat resmi, jadi setelan otak gue masih default surat ke pejabat eselon 1, hahahah), gue sama Andri berpikir ulang, tadinya Zee akan dimasukkan sekolah umur 2 tahun. Sepeeerrtiinya akan kita percepat menjadi 18 bulan. Bukan apa2, DAN JANGAN BILANG KASIHAN ANAKNYA, gampar. ANAK GUE, bukan ANAK LO. mihihihi.. *keluar taring*. supaya Zee ngga kesepian dirumah aja, karena seberapa besar dan heboh usaha Tarces dan Iin bikin rumah Bintaro meriah, ga akan bisa nyamain kesenengan yang Zee dapet dengan main bersama anak sebaya-nya. Yah bonus Zee dikasi ‘pelajaran’ 1234 sama ABCD aja.
Pada akhirnya gue memperluas lagi option2 sekolah untuk Zee. Tadi gue liat juga ada School D, bagus bgt luas, banyak mainan dan islamic (banget). Jadilah gue liat2 website-nya, sayang.. langsung gugur karena minimal nerima murid 2 tahun. School E cuma 300 meter dari rumah Bintaro, terima tadi Toddler (18 bulan) juga, tapi yah.. beberapa pendapat orang bikin kita jadiin ini pilihan terakhir mungkin yah.
Oh well, semoga gue ga terburu2 menentukan pilihan sekolah dan melupakan faktor paling penting. Zee betah disana atau ngga. Dimanapun itu Zee seneng, disitulah dia akan sekolah!