Nggak pernah ada yang bilang hidup itu gampang ya. Posting kali ini refleksi hidup kita sebulan kebelakang..
We’re just experiencing one of our toughest moment. Semuanya diuji. Ke kompakan gue dan andri, pengertian gue dan Andri ttg hidup dan keluarga kemarin diuji. Kaya roda, hidup itu muter. Taun lalu kita terlena dengan banyaknya good and great opportunities sampai mungkin sempat tidak terlalu menghargai apa yang kita udah punya. Dengan gampangnya kesempatan2 bagus itu datang menghampiri hidup gue dan Andri. Dan akhirnya, kita mengambil keputusan yang (bisa dibilang) salah.. Kalau dipikir2 sekarang, mungkin apa yang terlihat bagus saat itu, setelah dijalani belum tentu sebaik apa yang dibayangkan dan diharapkan.
Sebagai keluarga, gue dan Andri sudah seharusnya saling dukung, i never blamed him, and he never blamed me karena telah mendukung keputusannya pada saat itu. Kita lupa, kalau on top of all those janji2 surga, bukan kita yang ngatur nasib dan jalan hidup. Segampang kun fayakun, semuanya bisa berubah.
Gue dan Andri mensyukuri sekali cobaan seperti ini datang disaat kita masih sanggup hadapi, dan alhamdulillah dengan baik baik. Yang paling penting, ngga membahayakan Zee. Nggak, kita ngga jatuh miskin kok *ketok2 meja* let’s say kita harus nombok biaya hidup dengan ngambilin deposito cadangan. Hehehehe..
Dalam menjalani rumah tangga, kita selalu mencoba untuk selalu terus terang terhadap perasaan satu sama lain. Apakah gue kesel, apakah Andri ada yang ganjel. Dulu waktu pengertian gue sama Andri masih belum se’dewasa’ sekarang, terus terang ini jadi boomerang. Gue ngomong ABC andri marah, Andri ngomong ABCD gue gentian marah. Setelah kita spend time waktu lebih lama, kita mulai ngerasain ini sebenernya adalah advantage dari hubungan gue dan Andri. Ngga ada rahasia walaupun kontrol dan pengambil keputusan-nya masih ada di Andri sebagai kepala keluarga kecil ini, yang mana sangat gue hormatin walo dia selalu treat gue dan dia adalah equal dalam hal berpendapat
Gue sempet kelepasan dan stress karena merasa beban gue berat bgt, kemarin2 ini gue juga gampang banget snapped out karena banyak sekali pikiran yang mondar mandir dan berdiam di kepala gue. Kerjaan gue di divisi baru nuntut fisik jauh lebih tahan banting karena tugasnya banyak, otak gue untuk muter lebih dari apa yang gue gunakan for the last 2 years, belum pulang kejar2an KRL, mikir menu makan Zee untuk seminggu kedepan, ditanyain mau dimasakin apa sama Mba Tarces buat besok bekel pagi. dan lain lain.. dan lain lain. Gue merasa ‘penuh’ sekali. Dan waktu gue cerita ke beberapa temen gue, mereka pun sebagai Ibu, Istri, Karyawan juga pernah ngerasain hal seperti ini. Gue cuma berharap yang ada di pikiran gue waktu itu cepet2 selese..
Andri sangat jaga perasaan gue sebagaimana gue juga sangat menjaga perasaan dia. Kita tau, setitik aja emosi dilibatin, pasti jadinya GEDE banget dan emosi kita berdua akan sama2 meledak.
Gue bisa bangga sama cara kita berdua memanage emosi, dan mengatur gimana orang terdekat kita ngga pernah tau masalah (kalau memang bisa disebut masalah) ini sampe ke permukaan. Not even Zee, not even Cus Iin. Not even Mba Tari, yang mana adalah keluarga paling deket kita. Or they know, and pretend not to.
Alhamdulillah Allah SWT sayang banget sama kita, dikasi satu cobaan dan diberikan jalan keluar, Now we’re back to normal pace. But lesson learned. Kerja ngga bisa semau kita (pulang tenggo, jalanan ga macet, ga banyak tugas kepending). Kita yang memang harus adapt sama kerjaan itu, toh tujuannya untuk provide what we think it’s best for Zee (and his upcoming brother or sister, amin). Tanggung jawab lebih, pengorbanan dalam hal waktu untuk keluarga juga pasti lebih. Zee ngga lahir dengan deposito 1 milyar nempel di tag tangannya. Dia lahir menggantungkan hidupnya di gue dan Andri. Insya Allah gue dan Andri berusaha memberikan dia yang terbaik sesuai dengan kemampuan kita saat ini dan nanti. Kali ini gue ga mau muluk2, ga mau lebih2, ga mau macem2. I just want my family save.
Prioritas hidup kita berubah, bukan sepatu cantik, bukan baju bola, bukan sepatu futsal mercurial, bukan tas bermerk. Prioritas hidup kita sekarang menjadkan Zee anak yang bahagia dan sehat lahir dan batin. Insya Allah… Amin.