Good Friends, Good Food

Almost forget to tell you that i have a great Saturday Night with Andri’s Officemates last Saturday at Bandar Djakarta! :)

Pertamanya ngga ada rencana, gue nemenin Andri ambil celana kerja di Tonnico Mayestik, udah langganan, dan Om Tonni-nya ngerti banget mau andri kaya gimana.  Pas lagi ngantri di jalan Mayestik dalem pasar itu, mewek beberapa kali karena kasian sama orang jualan macem2 (terutama bapak2 jualan korek api itu). Terus Andri mikir, apa traktir temen2 Andri (lagi, setelah kamis lalu andri makan2 Ayam Suharti dan gue ngirim Jus Arisan FD yang enak banget itu ke kantornya Andri buat farewell) di Bandar Djakarta. AYUKLAH!

Kerumah papa dulu, benerin lampu rem metong 2-2nya. terus langsung ke Bandar Djakarta. Ngaret padaan (henry! awas ya, lain kali gue cepetin jadwal-nya 1 jam!), jam 8 pada baru nongol. Ada Ms. Anggi yang cantiiikk  (yang seharusnya alergi seafood dan bela2in di therapy dulu!! hahaha), Abang Zidny Jaidi, Ipung, Henry, Radit (sayangnya minus Muella dan Rani), sayang Rio lagi di Surabaya (Get well soon buat si Oom yah, yo) dan Setiawan serta Titri ga bisa ikut, lain kali ikutan semua yaaa… Gak lama kita menyerbu kepiting 5 -saus tiram dan lada hitam-, udang pancet besar bakar saus teluk, cumi 2 kilo goreng tepung, ikan bawal bakar pedas manis sm kangkung2an. (aduh gue jadi pingin lagi, salah nih list!).

Abis makan kita muter2 ancol, dan ngobras2 di pinggir laut deket Pantai Festival, itu lekong2 pada foto2an sampe mabok , while gue ngobras sama Anggi, gue ngomong banyak banget ya Nggi? gara2 kepiting nih, mabok gue! sampe pada akhirnya kita pulang.

We love you, guys! stay in touch, for our kind of friendship will never fade *kiss*

Ancol Shore, May 16 2009, around 11.30 PM

Ancol Shore, May 16 2009, around 11.30 PM

Andri – Henry – Radit – Zidny – Anggi – Ipung – Woro

oh here’s a little something2 to make ur days!

Oh Crab!!!

Oh Crab!!!

Gee, thanks Henry.. what a nice friend you are! Hakakakakaka..

My Two Cents

Tadi saya mampir blog temen baik saya, Rani. Lantas saya baca 2 latest posts-nya dia. I couldn’t agree more with her.

Dia bahas masalah Labeling People.

I never labeled people. a First Impressionist yes. Tapi hanya untuk diri saya sendiri, saya ngga ngomong, njeplak, atau nyap-nyap dimana2 tentang impression saya ke orang tertentu. Dan First Impression fades, bisa salah bisa bener seiring berjalannya waktu, bisa terkoreksi. While LABELS stick forever! Orang yang melabeli orang lain dengan Julukan Tertentu (biasanya diawali dengan kata2 Si…, Si ini Si itu) cenderung melihat dulu, mengenal dahulu keadaan orang itu, sampai pada suatu saat dia menjuluki teman (apa masihbisa dibilang teman?) atau orang lain dengan gelar Si Anu.

contoh : tetangga bercerita dia baru beli rumah impiannya..

Daripada kita melabeli dia dengan kata2 ‘Si Kaya’, atau ‘Si Baru Kaya’, mengapa tidak mengatakan, ‘alhamdulillah, semoga saya juga bisa beli rumah sebagus itu’, atau simpel saja “turut berbahagia yah’. Ucapan selamat kan tidak hanya untuk Ulang Tahun, Naik Kelas, Naik Jabatan dll. Benar? Saya selalu mengucapkan SELAMAT! apabila itu adalah hal yang membahagiakan untuk orang yang bersangkutan, membeli tas, atau sepatu? atau TV Plasma, apapun itu. Semoga (dengan banyaknya rejeki yang diterima Anda) Berbahagia. Enak kan kedengarannya?

Meskipun masih dalam tahap unnaceptable, kita akan merasa ‘masa bodoh’ apabila orang yang melabeli diri kita ini tidak kita kenal, tapi teman sendiri? pernah mikir gimana rasanya? kaget? sudah pasti. Apalagi ini bukan Label pertamanya Dia terhadap orang lain.. Pernah melihat bagaimana orang lain mikir tentang dirinya sendiri? Pasti tidak. Atau tahu, tapi tidak perduli. Dan tetap melakukan hal2 yang dipandang sebelah mata oleh mayoritas orang (percayalah, saya katakan mayoritas bukan tanpa sebab dan alasan).

Saya berkesimpulan, dan ini pendapat pribadi, bahwa orang yang suka ‘kurang kerjaan’ melabeli orang lain atau teman2nya (apalagi!) adalah orang yang tidak secure dengan kehidupannya sendiri. Dalam hal apa? entah. Mungkin dalam hal yang orang tersebut sering protest dengan keras dan vokal? Mungkin lho. :) apa yang menjadi keberhasilan orang lain merupakan momok untuknya. Saya harus bisa lebih! sementara belum, saya label saja dia si ini. begitu? mungkin?

Hak saya sebagai penyuara juga baru saja diinjak2, tanpa menghargai kemerdekaan berpendapat tiba2 kata2 saya dijadikan proyek percontohan. Pertanyaan saya yang seharusnya dengan intelektualitas setinggi itu bisa dijawab dengan simple words : YA dan TIDAK malah tidak dijawab, beberapa malah diputar balikkan ke saya dengan  dijawab pertanyaan lain. Kesal? jelas. Tapi saya membiarkan orang lain yang menilai.

Suami saya juga bilang “sudah, biarkan. bagus kamu menginspirasi tulisan dia dan dapat tanggapan dari banyak orang. kasian, nanti dia malah gantian di label orang2″. Yes, an eye for an eye. Congrats for your New Label.

..

(ini sekaligus menjadi penjelasan ke lebih dari 15 orang teman2 baik saya yang menanyakan hal ini melalui Ym!, BBM Email, Twitter, Plurk, dan PM di Multiply. Percayalah, perbedaan umur tidak lantas menjadi orang lebih bijak dalam menyikapi suatu masalah, 12 tahun sekalipun. I Thank You for your concern and sympathy).

Good Day, Everyone. Keep the positivity alive.