Ini sharing pengalaman dari perspektif saat saya mendapatkan tawaran pekerjaan atau pendekatan dari perusahaan atau headhunter. Setelah beberapa kali mengalami, ada hal-hal yang bisa diliat dari calon employer/perusahaan sebelum mutusin untuk saya terusin proses pindah nya atau enggak. Ini mungkin ga terlalu applicable waktu masih fresh graduate, karena selain kita ga dalam posisi untuk memilih, saya inget waktu itu dapet kerja yang pake dasi ato karena nama perusahaannya terkenal aja udah seneng banget, hehehe…
Mudah-mudahan postingan ini juga bisa berguna untuk sharing ke temen yang nanya dan email.
1. Idealisme
Saya ga banyak idealisme untuk respon tawaran pekerjaan, malah kantor sebelum ini industrinya bertentangan sama apa yang dianjurkan di kepercayaan saya, tapi toh saya ga (sering) mengkonsumsi produknya, huahuaha…
Cuma, almarhumah ibu pernah bilang: “kamu jangan kerja di perusahaan rokok, kita kan juga ga ada yang ngerokok”…. dan berarti saya pun (insyaAllah) ga akan pernah kerja di perusahaan rokok.
2. Industri/Bidang Usaha
Kebetulan dari 5 perusahaan yang pernah saya bekerja, lima-lima nya di industri berbeda. Saya ga ahli ekonomi, tapi kayanya udah pengetahuan umum industri mana yang mungkin lebih sustainable/tahan kalo terjadi krisis. Saya mengharapkan suasana mendukung untuk bisa saya berkontribusi, jadi preferensi saya lebih ke industri yang stabil. Industri dasar kaya energi, kimia dasar, consumer goods, farmasi, bahan pangan atau konsultansi besar mungkin termasuk di kategori itu, mungkin.
Bank di Indonesia juga raksasa industrinya, tapi karena pertimbangan pribadi, saya ga pernah terpikir bekerja di industri itu, hehehe..
3. Kemampuan finansial perusahaan
Terutama perusahaan publik, jaman sekarang ga susah liat kinerja perusahaan manapun 5 tahun terakhir. Saya pernah ada tawaran dengan posisi signifikan di perusahaan terbuka, tapi pas saya liat 3 taun terakhir perusahaan itu hampir ga ada laba, penjualannya juga agak memprihatinkan, saya akhirnya melewatkan kesempatan itu.
Saya ga se-’canggih’ temen-temen lain yang misalnya sengaja milih perusahaan yang struggling dengan harapan bisa bantu perusahaan bangkit dengan kontribusi nya. Saya lebih memilih perusahaan dengan suasana stabil jadi saya bisa berkontribusi maksimal tanpa mikirin hal-hal lain.
4. Pemilik perusahaan
Saya juga ga terlalu rumit di faktor ini, cuma memang terus terang saya kurang tertarik kalo ternyata pemilik/pemegang saham perusahaan tersebut dari Negara-negara tertentu karena berbagai pertimbangan pribadi dan anggapan umum yang ada.
Saya belum pernah kerja untuk perusahaan yang mayoritas dipunyain sama orang Indonesia, tapi kalo pun suatu saat iya, mungkin saya juga ga memprioritasin kerja untuk grup perusahaan/institusi/keluarga konglomerat dengan image yang ga lebih banyak positifnya di umum, terlepas apakah itu hanya blow up media, tapi ini bukan komitmen karena tergantung banyak sekali hal lain.
5. Umur perusahaan di Negara tersebut
Saya lebih memilih bekerja di perusahaan yang baru berdiri 10 tahun di Indonesia (atau sekarang Singapore) daripada perusahaan yang udah berdiri 100 tahun di Negara asalnya tapi baru eksis di Indonesia/Singapore 2 taun. Banyak contoh perusahaan besar dunia yang masuk Indonesia terus kurang dari 3 tahun keluar lagi (kaya contoh bank besar Inggris), mereka mungkin coba-coba dulu beberapa tahun di awal, saya ga tertarik jadi bagian proses coba-coba.
Perusahaan “termuda” yang pernah saya kerja umurnya sekitar 16 tahun di Indonesia pada waktu itu, perusahaan IT Jepang. Yang lain di atas 35 taun semua, bahkan ada yang hampir 100 taun. Perusahaan “tua” ga menutup kemungkinan bubar juga kaya Lehman Brothers, tapi dikombinasiin sama faktor no 2 dan 3 di atas, kita bisa memperkecil risiko itu.
6. Lokasi
Sepele. Tapi biarpun pernah ditawarin berbagai fasilitas pendukung dari perusahaan manufaktur di deket Sentul waktu itu, ga kebayang saya harus tempuh jalur itu tiap hari. Terutama di Jakarta, dengan rumah di daerah Bintaro, saya udah capek duluan bayangin perjalanan ke pluit ato karawang misalnya.
Untuk Singapore, secara luas Negara nya ga lebih gede dari gabungan Jakarta Selatan + Jakarta Pusat, lokasi jadi ga terlalu krusial, hehehe..
7. Kultur
Ga selalu faktor ini langsung bisa diakses secara publik sih, mungkin setelah interview baru tau. Misalnya kultur bekerja, ada kantor yang menganggap “aneh” kalo karyawan pulang jam 5 atau 6 sore yang sebenernya jam resmi selesai kerja ato ada juga yang sangat mementingkan work life balance. Saya jelas “pengikut” yang kedua, saya ga terlalu ngerti di jaman teknologi kaya sekarang masih ada kantor yang menuntut karyawannya untuk secara fisik harus ada di kantor sampe malem tiap hari, yang biasa saya kerjain adalah pulang dulu ga jauh dari jam kantor resmi, nanti anak-istri tidur baru buka laptop lagi kalo ada yang urgent (*seperti sekarang, jam 1.27 pagi waktu SG dan saya baru aja kirim beberapa email kantor). Ini tentu aja saya masih membicarakan jenis pekerjaan yang similar sama saya ya, banyak temen yang jenis pekerjaannya memang mengharuskan stay late kaya mungkin media.
Kayanya itu aja sih faktor yang utama, tentu aja setelah ketemu calon user, akan lebih banyak informasi yang bisa jadi bahan pertimbangan. Scope tanggung jawabnya, size tim nya, reporting line, acara sosial diluar pekerjaan yang diselenggarain sama kantor, dll. Tapi tampak “luar” yang bisa saya akses biasanya faktor-faktor di atas itu, dan itu cukup menentukan.
Next on my posting list: sharing on Interview.
